Jumat, 31 Mei 2013

Berdusta Atas Ucapan Rasul SAW

Assalamu’alaikum warahmatullahi warahmatullahi wabarakatuh ..








Berdusta Atas Ucapan Rasul SAW



قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
مَنْ تَعَمَّدَ عَلَيَّ كَذِبًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas ucapanku maka ia (bersiap) mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari)
Image
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya, terlebih lagi bagi yang memohonnya, Yang Maha memiliki kebahagiaan dan keluhuran serta memberikannya kepada hamba-hamba-Nya sepanjang waktu dan zaman, Dialah Yang Maha menciptakan segala sesuatu termasuk pula Yang menciptakan waktu dan zaman. Dialah Allah subhanahu wata’ala yang mana jika seseorang memanggil nama-Nya maka terbukalah seluruh pintu rahmat-Nya, dan tertutuplah seluruh pintu kemurkaan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi riwayat Shahih Al Bukhari :
أَنَا مَعَ عَبْدِيْ حَيْثُمَا ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ
“ Aku bersama hamba-Ku ketika ia menyebut-Ku dan bergetar bibirnya menyebut nama-Ku”
Maka seluruh pintu musibah, bala’ atau kesusahan di dunia dan akhirat yang akan datang kepada kita ditutup dan disingkirkan oleh Allah disaat kita mengingat-Nya , menyebut dan memanggil nama-Nya serta merindukan-Nya, disaat kita memanggil dan menangis karena cinta kepada-Nya, di saat kita meminta dan mengadu kepada Allah, di saat kita mendambakan pertemuan dengan Allah. Dan di saat ia merindukan Allah sungguh ia juga dirindukan Allah subhanahu wata’ala. Sepanjang hidup manusia sejak ia lahir hingga ia wafat, tidak ada sesuatu yang lebih indah dari detik-detik ketika ia dirindukan Allah. Satu detik itu akan membuat sirna dosa-dosanya. Semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan kerinduan kita kepada-Nya, sifat rindu kepada Allah subhanahu wata’ala sungguh sangat indah jika berpijar di dalam jiwa, dan hal itu akan muncul dengan kita mengenali nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, pemimpin orang-orang yang dicintai dan mencintai Allah subhanahu wata’ala. Dan orang yang paling mencintai Allah pastilah ia juga mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan semua cinta Allah tersimpan pada sosok sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
( آل عمران : 31 )
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. Ali Imran : 31 )
Sampailah kita pada hadits agung dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa yang mendustakan hadits-ku ( Rasulullah ) dengan sengaja maka bersiaplah kelak untuk menempati neraka”.
Makna hadits ini sudah jelas, namun kita perlu menelaah lagi berkaitan dengan saudara-saudara kita yang terjebak dengan rendahnya pemahaman, sehingga tergesa-gesa untuk menghapus hadits-hadits semau mereka, atau dengan berkata : “hadits itu dha’if maka jangan digunakan sebagai dalail”, dll. Padahal hadits dha’if bukanlah hadits palsu, dimana para ahli hadits membagi hadits dha’if menjadi 40 bagian, dan diantaranya ada hadits yang masih bisa digunakan sebagai hujjah, sebagaimana Al Imam Ahmad bin Hanbal menggunakan hadits dha’if dalam menetapkan dalil akan sentuhan suami dan istri tidak membatalkan wudhu’, adapula hadits yang tidak bisa lagi digunakan sebagai hujjah namun bisa dijadikan amal untuk dianut dan diikuti, dan ada pula yang bisa dijadikan sebagai dalil sejarah, karena tidak semua hadits dha’if itu termasuk hadits palsu. Namun jika telah disebutkan bahwa hadits tersebut adalah hadits palsu maka besar kemungkinannya bahwa hadits itu riwayatnya juga palsu. Namun para ulama salafusshalih tidak berkenan menghapus hadits dha’if begitu saja karena para periwayatnya adalah para shalihin. Dan hadits Shahih itu sangat berat syaratnya sebagaimana Al Imam Bukhari ketika beliau mendengar ada salah seorang yang menyimpan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan belum beliau ketahui, lalu beliau tempuh perjalanan 3 bulan untuk menemui orang tersebut dan ternyata dia adalah seorang penggembala kambing dan di saat itu ia menggembala kambingnya kemudian memanggil kambingnya dengan mengangkat sorbannya yang berwarna hijau, maka kambingnya pun datang karena mengira sorban itu adalah rumput karena berwarna hijau, maka Al Imam Bukhari berkata : “aku tidak mau mengambil hadits dari orang itu ”, karena dia adalah penipu. Sekedar menipu hewan saja haditsnya tidak diambil oleh Al Imam Bukhari, meskipun belum tentu orang tersebut berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun hal itu demi menjaga hadits yang shahih. Oleh karena itu jangan terburu-buru mendengarkan ucapan orang yang biasa memvonis suatu hadits sebagai hadits dha’if, karena hal tersebut termasuk mendustakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saat ini kita berada pada bulan mulia bulan Dzulqa’dah, dimana telah terjadi perjanjian Hudaibiyah di bulan ini. Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 H bulan Dzulqa’dah, diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, shahih Muslim dan lainnya, ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju Makkah Al Mukarramah bersama 1500 kaum muslimin muslimat dengan berpakaian ihram, dan setelah mendekati kota Makkah, orang kuffar quraisy telah melihat bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam datang bersama 1500 orang muslimin menuju ke Makkah dan mereka pun mulai waspada, setelah kabar itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melihat kaum quraisy tidak menerima mereka secara damai, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya mencari jalan lain untuk menuju Makkah namun tetap saja kaum quraisy mengetahuinya dan menghalangi mereka. Dan dalam perjalanan itu kaum muslimin kehabisan air, teriwayatkan di dalam Shahihul Bukhari bahwa ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta air kemudian para sahabat membawakan air dalam bejana yang hanya tinggal sedikit, lalu para sahabat berkata bahwa persediaan air habis dan semua sumber air yang ada disekitar saat itu pun kering, maka Rasulullah memasukkan tangan beliau ke dalam bejana yang berisi air sedikit itu lalu keluarlah air dari jari-jari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka mulai minum sepuasnya dan berwudhu’ dari air tersebut, yang mana jumlah mereka di saat itu adalah 1500 orang, dan teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa jika jumlah mereka di saat itu adalah 100.000 orang maka air itu pun akan mencukupi untuk semua, karena air keluar dari jari-jari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan derasnya dan tanpa berhenti. Demikian dari mu’jizat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau tidak ingin melihat orang yang dicintainya kesusahan. Dan di saat itu datanglah Urwah sebagai utusan kaum quraisy sebelum ia masuk Islam, dia datang untuk membuat perjanjian yang disebut dengan perjanjian Hudaibiyah , maka Urwah berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan setiap kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara urwah selalu memegang jenggot beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, karena merasa geram ingin mencelakai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di saat itu ada salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berada di samping Rasulullah selalu memukul tangan Urwah setiap kali ingin memegang janggut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berlaku sopan dihadapan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan diriwayatkan bahwa Urwah berkata tidak satu pun dari para sahabat yang mengangkat kepala untuk memandang wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena penghormatan mereka terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi berwudhu, para sahabat berebut mengambil bekas air wudhu’ beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mengusapkan ke muka dan ke tangan mereka, adapun mereka yang tidak mendapatkan bagian air bekas wudhu’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka mereka mengambil dari bekas sahabat yang lain kemudian mengusapkan ke wajah mereka, dan air bekas wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu wangi. Diriwayatkan dalam kitab As Syifaa oleh Al Imam Qadhi ‘Iyadh bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah sumur, lalu para sahabat berkata bahwa air di sumur itu rasanya pahit, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : “tidak demikian, air di sumur ini rasanya enak dan baunya wangi”, kemudian Rasulullah meminta untuk diambilkan air dari sumur itu kemudian beliau berkumur dengan air itu lalu memuntahkan air itu ke dalam sumur, dan ternyata air itu baunya lebih wangi daripada bau misik, karena telah tercampur dengan air ludah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh segala sesuatu yang tersentuh atau disentuh oleh sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka akan dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala, maka terlebih lagi jika itu adalah hati yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Maka di saat itu Suhail yang juga merupakan utusan musyrikin membuat perjanjian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah memerintahkan kepada sayyidina Ali Kw untuk memulai dan menuliskan “Bismillahirrahmanirrahim”, namun Suhail menolak dan meminta untuk menulis “Bismika Allahumma”, Rasulullah terdiam dan kemudian memerintahkan untuk mengikuti kemauan musyrikin akan hal itu, lalu Rasulullah memerintahkan untuk menulis “Min Muhammad Rasulullah (dari Muhammad utusan Allah)”, maka kaum musyrikin tidak menerimanya dan meminta untuk menghapus kalimat “Rasulullah”, karena mereka tidak meyakini bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasulullah, namun tangan sayyidina Ali tidak mampu untuk menghapusnya kemudian Rasulullah sendiri yang menghapusnya seraya berkata :
وَاللهِ إِنِّيْ لَرَسُوْلُ اللهِ وَإِنْ كَذَّبْتُمُوْنِيْ اُكْتُبْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ
“ Demi Allah, sungguh aku adalah utusan Allah walaupun kalian mengingkariku, tulislah -Muhammad bin Abdillah- “.
Kemudian ditulislah : “Min Muhammad bin Abdillah ( dari Muhammad putra Abdullah)”. Dan perjanjian berikutnya sangat mengagetkan muslimin, yaitu jika ada orang muslim yang masuk Islam dari Makkah dan lari ke Madinah, maka harus dikembalikan kepada kaum musyrikin quraisy, para sahabat tidak menerima hal itu namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya terdiam, para sahabat kebingungan, dan dalam keadaan seperti itu datanglah Jandal bin Suhal dan berkata : “ Aku datang dari Makkah untuk masuk Islam”, maka Suhail berkata : “dialah orang yang pertama kali yang masuk Islam dan harus dikembalikan kepada kaum musyrikin”, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kepada Suhail agar kaum muslimin tidak mengembalikannya ke Makkah, hingga tiga kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memohon kepada Suhail namun Suhail tetap menolaknya. Kemudian datang sayyidina Umar bin Khattab RA kepada Rasulullah shallallahu, dan berkata : “wahai Rasulullah bukankah Engkau adalah benar-benar utusan Allah?”, Rasulullah menjawab : “iya betul aku adalah utusan Allah”, kemudian sayyidina Umar berkata : “Bukankah kita kaum muslimin berada pada kebenaran dan mereka dalam kesesatan?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “iya benar”, sayyidina Umar berkata : “ lantas mengapa kita harus menghinakan diri kepada orang-orang yang dalam kebathilan sedangkan kita dalam kebenaran?”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا
“ Sungguh aku adalah utusan Allah, dan Allah tidak akan mengecewakanku selama-lamanya”
Kemudian sayyidina Umar bin Khattab RA pun terdiam lalu mendatangi sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan menceritakan perbincangannya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang kemudian di akhir percakapan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا
“ Sungguh aku adalah utusan Allah, dan Allah tidak akan mengecewakanku selama-lamanya”
Kemudian sayyidina Abu Bakr As Shiddiq berkata : “jika demikian, maka sungguh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah dan Allah tidak akan mengecewakannya”, maka sayyidina Umar bin Khattab pun terdiam mendengar jawaban sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA. Setelah beberapa waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari kemahnya dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk memotong rambut dan menyembelih hewan kurban, dan setelah itu beliau dan kaum muslimin kembali ke Madinah Al Munawwarah tanpa memasuki Makkah, namun para sahabat tidak ada yang melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga setelah beliau menerima pendapat Ummu Salamah untuk memulai mencukur rambut beliau dan menyembelih hewan qurban, kemudian para sahabat pun dari Muhajirin dan Anshar mengikuti langkah beliau karena cintanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan teriwayatkan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memotong rambut, tidak sehelai rambut pun yang terjatuh ke tanah kecuali telah berada di genggaman tangan para sahabat. Dan diriwayatkan dalm Shahih Al Bukhari bahwa salah seorang sahabat menyimpan sehelai rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berwarna hitam kemerah-merahan kemudian beliau menceritakan pada sahabat yang lainnya, maka sahabat itu berkata :
 لِأَنْ تَكُوْنَ عِنْدِيْ شَعْرَةٌ مِنْهُ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
“ Jika aku memiliki sehelai dari rambut beliau ( Rasulullah ) hal itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya ”
Demikian cintanya para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan setelah mereka selesai memotong rambut dan menyembelih hewan qurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kaum muslimin kemudian membai’at mereka di bawah sebuah pohon, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
( الفتح : 18 )
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) .” ( QS. Al Fath : 18 )
Dan firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat yang sama :
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
( الفتح : 10 )
“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah . Tangan Allah di atas tangan mereka , maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” ( QS. Al Fath : 10 )
Kemudian turun juga ayat tentang hal tersebut firman Allah subhanahu wata’ala:
لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا
( الفتح : 27 )
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat .” ( QS. Al Fath : 27 )
Setelah itu sahabat bersiap-siap untuk kembali ke Madinah Al Munawwarah, tiba-tiba di suatu pagi sayyidina Umar bin Khattab dipanggil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sayyidina Umar bin Khattab merasa khawatir jika perkataannya kemarin telah menyinggung perasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga turun ayat sebagai teguran untuk sayyidina Umar bin Khattab, maka beliau datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah berkata : “Wahai Umar, semalam telah turun ayat yang mana ayat itu lebih aku cintai dari terbitnya matahari”, ayat itu adalah firman Allah subhanahu wata’ala:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا ، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا
( الفتح : 1-3 )
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,  dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” ( QS. Al Fath : 1-3 )
Maka setelah mendengar hal itu, wajah sayyidina Umar bin Khattab menjadi cerah dan berkata : “wahai Rasulullah, apakah kelak kita akan masuk ke Masjidil Haram?”, Rasulullah menjawab : “iya betul wahai Umar”, maka dua tahun kemudian di bulan Ramadhan tahun 8-H masuklah kaum muslimin ke kota Makkah dengan aman dan damai, dan tidak ada lagi kaum musyrikin yang bisa melawan atau menghalangi pasukan kaum muslimin yang berjumlah 10.000 dari golongan muhajirin dan anshar, dan tidak ada lagi gencatan senjata dan ketika itu Abu Sofyan pun kemudian menyerah dan masuk Islam dan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “ Wahai Rasulullah, kuserahkan semua kekuasaan quraisy dan tidak ada lagi kekuasaan quraisy setelah hari ini”. Demikianlah kejadian perjanjian Hudaibiyyah pada tahun ke-6 bulan Dzulqa’dah.
Selanjutnya kita berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala semoga kita termasuk dalam kelompok ahli Hudaibiyyah yang bersumpah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membantu sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dan cinta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, membantu sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam semampunya dan menjauhi larangan Allah semampunya, serta mematuhi perintah Allah semampunya, dan semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kekuatan kepada kita untuk taat pada seluruh perintah Allah dan untuk mampu menjauhi seluruh larangan Allah, semoga Allah mengangkat seluruh kesulitan kita yang sedang terjadi dan yang akan terjadi di dunia dan di akhirah, semoga Allah menjaga kita dari segala musibah yang akan terjadi Ya Rahman Ya Rahiim…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Kasih Sayang Allah SWT Melebihi Kemurkaan Nya

Assalamu’alaikum warahmatullahi warahmatullahi wabarakatuh ..




Kasih Sayang Allah SWT Melebihi Kemurkaan Nya



قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَمَّا قَضَى اللهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ اْلعَرْشِ : إِنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ غَضَبِيْ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah SAW: “Ketika Allah telah selesai mencipta jagad raya dan seluruh makhluk, maka Allah SWT menuliskan diatas puncak Arsy: Kasih Sayangku (RahmatKu) mengalahkan kemurkaanKu” (Shahih Bukhari)
 Assalamu’alaikum warahmatullahi warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha menciptakan alam semesta ini yang demikian luas, dimana di alam dunia ini terdapat banyak dimensi, dimana terdapat dimensi alam manusia, alam jin dan syaitan , alam malaikat, alam barzakh, kesemuanya ada di alam ini namun berbeda dimensi, seperti ketika kita menyalakan dua radio, dimana bentuk kedua radio sama namun ketika diputar sedikit salah satunya maka siaran yang keluar dari radio akan berbeda dengan siran radio yang lainnya, demikian pula keadaan alam jin dan syaitan yang juga di dunia, demikian pula keadaan alam malaikat yang sebagian besar terdapat di dunia, demikian alam ruh dan alam barzakh yang juga di dunia, serta jutaan dimensi yang tidak kita ketahui selain dari semua ini, kesemuanya berada dalam kerajaan dan kekuasaan tunggal Allah subhanahu wata’ala. Seluruh alam ini dicipta oleh Allah subhanahu wata’ala, dan yang kita ketahui hanya beberapa dimensi, dimana tidak semua bangsa manusia yang dapat melihat jin namun sebagian kecil dari mereka saja yang dapat melihatnya, begitu juga jin tidak bisa melihat syaitan kecuali hanya sebagian kecil jin saja yang dapat melihat syaitan, karena jin digoda oleh syaitan, begitu pula tidak semua jin dan syaitan dapat melihat ruh karena ruh lebih baik daripada syaitan, dan tidak semua ruh dapat melihat malaikat karena malaikat lebih baik daripada ruh, meskipun sebagian ruh diizinkan untuk melihat malaikat, demikian keadaan-keadaan alam ghaib yang dapat ditembus, dan makhluk yang paling menembus alam ghaib yang terdalam adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimensi demi dimensi, alam demi alam, dan keghaiban demi keghaiban tertembus hingga terlepas dari semua tempat dan waktu, padahal semua dimensi pasti terikat dengan waktu dan tempat, namun ini adalah dimensi yang terakhir yang lepas dari waktu dan tempat, yang mana disitulah perjumpaan Allah subhanahu wata’ala rabbul ‘alamin dengan satu-satunya makhluk yaitu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, undangan tunggal Allah subhanahu wata’ala sepanjang alam semesta dicipta hingga alam semesta berakhir hanya untuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, bahwa ketika Allah subhanahu wata’ala selesai menciptakan alam semesta ini dengan segala dimensi yang ada, kemudian Allah subhanahu wata’ala menulis di atas ‘arsy :
إِنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ غَضَبِيْ
“ Sesungguhnya rahmat (kasih sayang) Ku mengalahkan kemurkaan-Ku”
Tulisan itu merupakan tulisan yang tertinggi di puncak tertinggi ‘arsy, dan sebagian ulama’ mengatakan bahwa kalimat “Laa ilaaha illallah Muhammad Rasuulullah” adalah kalimat yang tertinggi dan terluhur, namun inilah maknanya karena ‘arsy milik Allah subhanahu wata’ala, dan siapakah “Rahmat” Allah subhanahu wata’ala? Dia adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
( الأنبياء : 107 )
“Dan tidaklah Kami (Allah) mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai (pembawa) rahmat bagi segenap alam”. ( QS. Al Anbiyaa: 107 )
Wujud dari rahmat Allah subhanahu wata’ala adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, darinya lah Allah membuka segala rahmat-Nya untuk semua dimensi yang ada di alam semesta, darinya lah Allah munculkan cahaya hingga terciptalah seluruh alam semesta. Dan awal dari seluruh penciptaan alam semesta adalah cahaya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh sebab itu sampai di dalam neraka pun, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam masih tetap bisa memberikan syafa’at, mengapa? karena Allah subhanahu wata’ala masih mempunyai kasih sayang terhadap hamba-hamba yang tidak menyembah kepada selain-Nya serta mengakui bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah subhanahu wata’ala, maka mereka harus tetap akan masuk surga dan hal itu adalah ketentuan Allah yang tidak lagi dapat dirubah. Mereka yang banyak melakukan dosa selama di dunia akan tetap memasuki neraka, namun akhirnya ia akan masuk ke dalam surga. Maka saat ini kita tidak berlomba-lomba untuk masuk ke dalam surga, karena surga atau neraka adalah Allah Yang menentukan, namun kita bersama berlomba-lomba untuk dekat kepada Allah subhanahu wata’ala. Jika kita mau merenungi lebih dalam dengan hati dan sanubari yang suci, kita akan temukan bahwa cinta itu adalah Allah subhanahu wata’ala, cinta kepada Allah subhanahu wata’ala semata hal itu adalah yang paling benar, adapun cinta kepada selain-Nya akan menimbulkan permasalahan, dan cinta yang sempurna kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cinta yang sebenar-benarnya maka cinta itu pun akan terpancar kepada semua makhluk terlebih kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, terpancar kepada keluarga, anak-anak, orang tua, saudara, tetangga dan lainnya, yang kesemuanya terpancar dari cinta kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka hakikat dari cahaya Allah subhanahu wata’ala adalah terpancarnya cinta, namun diselewengkan oleh iblis hingga tergodalah nabi Adam dan akhirnya turun ke muka bumi karena melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala disebabkan cinta tersebut diselewengkan oleh iblis, maka berwaspadalah terhadap cinta, karena cinta itu hanya untuk Yang Maha Memilikinya, Yang Maha Berhak dicintai yaitu Allah subhanahu wata’ala dan Maha melimpahkan cinta-Nya kepada yang menghendaki-Nya, maka yang menghendaki cinta Allah subhanahu wata’ala akan Allah berikan cinta kepadanya. Sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi :
مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ
“Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan-Ku (Allah), maka Aku pun ingin berjumpa dengannya”.
Begitu juga firman-Nya dalam hadits qudsi riwayat Shahih Al Bukhari :
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ فَلْيَظُنَّ بِيْ مَا شَاءَ
“Aku (Allah) tergantung pada prasangka hamba-Ku, maka berperasangkalah kepada-Ku semaunya”
Jika seseorang ingin mencintai Allah subhanahu wata’ala, maka Allah pun ingin mencintainya, begitu juga yang ingin mendekat kepada Allah, maka Allah lebih ingin mendekat kepadanya. Maka tergantung diri kita, apa yang ingin kita perbuat di dunia yang hanya beberapa saat ini untuk mencapai kehidupan yang kekal dan abadi?!.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saya cukupkan tausiah malam ini, karena saya di tunggu untuk menghadiri rapat untuk kedatangan guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim Al Hafizh minggu yang akan datang, semoga acara Haul sayyidina Fakhrul wujud Al Imam Abu Bakr bin Salim dan acara malam Selasa di Monas berlangsung sukses serta menggetarkan rahmat Allah hingga tumpah ruah kepada kita semua sepanjang usia kita hingga kita wafat dan melintas di alam barzakh serta melewati alam akhirah hingga sampai ke surga Allah subhanahu wata’ala bersama para shalihin , para muqarrabin dan para wali Allah, amin ya rabbal ‘alamin.
Kita berdoa berasama, semoga semu yang hadir dilimpahi rahmat dan kebahagiaan, semua yang mempunyai hajat semoga dikabulkan hajat-hajatnya, semua yang mempunyai kesulitan dan permasalahan semoga segera diselesaikan dan diberi jalan keluar oleh Allah subhanahu wata’ala. Ya Allah jadikanlah malam ini adalah malam terkahir bagi kesulitan-kesulitan kami, dan jadikanlah malam ini adalah malam yang paling banyak Engkau limpahi rahmat dan kemudahan bagi kami, dan jadikanlah malam esok lebih banyak lagi gelombang rahmat-Mu yang terlimpahkan kepada kami. Kami bersumpah demi cahaya keagungan nama-Mu bahwa Engkau lah Yang Maha Dermawan, maka buktikanlah, hanya Engkaulah Yang Maha Melimpahkan kebahagiaan, hanya Engkaulah Yang Maha melimpahkan keanugerahan dan kasih sayang, maka berilah kami bukti agar kami semakin bertambah iman kepada-Mu, kami yakin bahwa Engkau Yang Maha memberikan kebahagiaan , kami yakin Engkau Maha memiliki anugerah, namun berilah kami kekuatan agar iman kami semakin kuat dengan bukti bahwa Engkau Yang paling dermawan, dan kami tidak berpaling kepada selain-Mu. Wahai Allah seandainya kami ditimpa banyak musibah kami pun tidak akan menyembah kepada selain-Mu, kami tidak akan memilih Tuhan selain-Mu, maka janganlah Engkau tahan untuk melimpahkan anugerah kepada kami…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Mukjizat Rasulullah SAW

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ





Mukjizat Rasulullah SAW



عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَانَتْ صَلَاةُ الْعَصْر،ِ فَالْتَمَسَ النَّاسُ الْوَضُوءَ، فَلَمْ يَجِدُوهُ، فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَضُوءٍ، فَوَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِي ذَلِكَ الْإِنَاءِ يَدَهُ، وَأَمَرَ النَّاسَ أَنْ يَتَوَضَّئُوا مِنْهُ، قَالَ، فَرَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ، مِنْ تَحْتِ أَصَابِعِهِ، حَتَّى تَوَضَّئُوا مِنْ عِنْدِ آخِرِهِمْ
(صحيح البخاري)
“Dari Anas bin Malik Ra, kulihat Rasulullah SAW, dan sudah saatnya shalat ashar, maka orang orang mencari air, untuk wudhu namun tak menemukannya, maka dibawakan kepada Rasul saw bejana wadah tempat air berwudhu, maka Rasul saw menaruh tangan beliau SAW dan memerintahkan orang orang berwudhu dari wadah air itu, maka kulihat air mengalir deras bagai mata air dari bawah jari jari beliau saw, hingga orang orang berwudhu hinggga kesemuanya selesai” (Shahih Bukhari)
ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha memuliakan kita untuk hadir dalam perkumpulan yang luhur ini, Yang Maha Bercahaya di atas segala yang bercahaya, Maha Menciptakan cahaya kebahagiaan, cahaya keluhuran, cahaya kesejahteraan, cahaya kebahagiaan di dunia dan akhirat, hingga terang benderang jalan yang ditempuh oleh para hamba-hambaNya, jalan kebenaran dan keluhuran yang diterangi dengan matahari keridhaan Ilahi, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliaulah matahari kemuliaan Allah, matahari cinta dan kasih sayang Allah, matahari keindahan Allah, matahari pengampunan Allah, yang mana jika seseorang mengenal dan mengikuti tuntunan beliau, sampailah ia pada pengampunan dan keridhaan Allah, keindahan dan kasih sayang Allah sehingga didapatilah kebahagiaan di dunia dan akhirat serta jauh dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala karena ia akan meninggalkan hal-hal atau perbuatan yang hina di sisi Allah subhanahu wata’ala. Di malam hari ini kita semua masih berada dalam naungan bulan agung Rabiul Awwal, yang mana Allah subhanahu wata’ala menyimpan di dalamnya rahasia keluhuran sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang tadi telah kita dengar dari guru-guru kita bahwa merupakan suatu aib bagi seseorang muslim yang melewati bulan Rabi’ul Awwal dan tidak memimpikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ucapan ini merupakan tahziir (peringatan) dan juga sebagai doa dan harapan serta penyemangat bagi kita agar senantiasa merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Rabi’ul Awwal, berharap untuk bisa berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Rabi’ul Awwal, maka kita selalu berusaha untuk memperbanyak mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam. Namun jika tidak berjumpa dengan beliau janganlah merasa kecewa, dan jika berjumpa dengan beliau tidak pula merasa sombong dan takabbur , akan tetapi bersyukurlah akan hal itu karena perjumpaan itu akan terjadi berulang-ulang dikarenakan rasa syukur itu.
Sampailah kita pada hadits luhur akan mu’jizat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah disampaikan oleh sayyidina Anas bin Malik RA, dimana suatu hari ketika telah masuk waktu shalat Asar dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat berada dalam perjalanan, dalam 2 riwayat yang lain yang terdapat di Shahihul Bukhari disebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di wilayah Hudaibiyah, maka ketika itu para sahabat mencari air untuk berwudhu namun tidak mereka dapatkan, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta bejana air dan menaruhkan tangan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ke dalam bejana air itu sehingga mengalirlah air dari bawah jari-jari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan derasnya, kemudian para sahabat berwudhu’ dengan air itu. Disebutkan dalam riwayat yang lain dalam Shahihul Bukhari bahwa ketika dalam perjalanan itu (Dalam perjanjian Hudaibiyyah) mereka berjumlah 1500 orang dan mereka semua menggunakan air itu untuk minum dan berwudhu, dan dikatakan oleh periwayat hadits bahwa meskipun jumlah orang di saat itu adalah 100.000 pastilah air tesebut tetap mencukupi mereka karena air itu terus mengalir dari jari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam hadits ini tersimpan makna bahwa ketika ummat dalam kesulitan dan kesusahan maka sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan hanya diam dan membiarkan mereka. Para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga akan dicintai oleh beliau shallallahu ’alaihi wasallam, dengan diberi syafaat oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia dan di akhirat . Syafaat Rasulullah terjadi di dunia sebagaimana kisah dalam riwayat yang tadi kita baca. Begitupula sebagaimana yang telah teriwayatkan ketika terjadi peperangan Badr salah seorang sahabat, sayyidina Ibn Afra’ yang ketika itu tangannya terpotong dalam peperangan, maka dengan kesakitan ia membawa potongan tangannya kehadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyambungkan kembali potongan tangannya itu lantas tangan itu pun tersambung seperti semula tanpa ada bekas luka sedikit pun. Hal yang terjadi seperti ini, jika kita mengatakan hanyalah kekhususan para sahabat, maka hal itu berarti kita membatasi kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi kedermawanan beliau berlaku untuk semua ummat beliau terlebih lagi para pecinta beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah subhanahu wata’ala:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
( التوبة : 128 ) “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. ( QS. At Taubah : 128 )
Di zaman sekarang ini, saat terjadi kerusakan pada ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika itu ada yang masih berpegang teguh pada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka akan didapatkan baginya pahala 100 orang mati syahid, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِي فَلَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ
“Barangsiapa yang berpegang pada sunnahku ketika kerusakan ummatku, maka baginya pahala 100 orang yang mati syahid”
Di setiap waktu dalam hari-hari di kehidupan dunia ini kita selalu ditunggu oleh kemuliaan pahala 100 orang mati syahid, apakah hal itu akan kita lewatkan begitu saja bahkan kita tukar dengan dosa dan kehinaan . Sungguh pahala yang agung ini jauh lebih utama dari sekedar chatting, bermain dengan handphone, atau browsing di internet dengan membuka situs-situs porno yang akan membutakan mata kelak di hari kiamat, dan tidak akan memandang Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
( طه : 124 ) “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS.Thaaha : 124 )
Maka kehidupan orang tersebut kelak di akhirat penuh dengan kesusahan dan kegelapan, dan kelak dibangkitkan dalam keadaan buta sehingga tidak mengetahui mana surga dan neraka, tidak mengetahui dimana Allah subhanahu wata’ala mengumpulkan hamba-hamba yang shalih, dan dimana Allah mengumpulkan hamba-hamba yang jahat, tidak mengetahui dimana kelompok para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ucapan ini bukan bermaksud untuk mentakut-takuti, tetapi hanya ingin mengajak agar kita menjadi orang yang terpilih untuk melihat Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kelak di alam barzakh dan hari kiamat. Sebagaimana bayangan wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selalu ada di setiap alam, baik itu di alam dunia sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَقَدْ فَسَيَرَانِيْ فِى الْيَقَظَةِ وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطاَنُ بِيْ
“ Barangsiapa melihatku dalam tidurnya maka sungguh ia akan melihatku dalam keadaan bangun (sadar) , dan syaithan tidak menyerupaiku”
Sebagian Ulama’ mengatakan bahwa orang yang telah memimpikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan melihat Rasulullah sebelum ia wafat, yang mana ia tidak akan mengalami sakaratul maut kecuali wajah sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tampak di hadapannya, dan ketika di alam barzakh sebagaimana terdapat lebih dari 7 riwayat dalam Shahihul Bukhari dan Shahih Muslim, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalla bersabda bahwa seorang hamba akan mendapatkan cobaan lagi di alam kubur yaitu pertanyaan di alam kubur, dimana ketika itu akan datang malaikat dan menunjukkan sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berkata :
مَاعِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ؟
“ Apa pengetahuanmu akan lelaki ini?”
Jika hamba itu adalah orang mukmin maka ia akan berkata :
 هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا هُوَ مُحَمَّدٌ، هُوَ مُحَمَّدٌ هُوَ مُحَمَّدٌ
“ Dia adalah Muhammad utusan Allah, datang kepada kami dengan penjelasan dan petunjuk, maka kami menjawabnya dan mengikutinya, Dialah Muhammad, Dialah Muhammad, Dialah Muhammad (Saw)”.
Maka malaikat berkata :
نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ
“Tidurlah dengan tenang, sungguh kami telah mengetahui bahwa kamu adalah orang yang meyakininya”
Hamba yang shalih bisa mengenal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meskipun belum pernah berjumpa dengan beliau, namun iman yang menjadikannya mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ruh itu kelak di alam kubur mengenal sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Shahih Al Bukhari :
اَلْأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ, فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
“Ruh-ruh itu merupakan pasukan yang teratur, ruh-ruh yang saling mengenal maka dia akan bersatu dengannya dan jika tidak saling mengenal maka akan saling mengingkari”
Jika manusia saling mencintai satu sama lain, maka ruh mereka pun saling mencintai dan berada dalam satu kelompok, sebaliknya jika manusia itu berselisih maka ruh mereka pun berselisih, jika mereka saling berpisah maka ruh mereka pun saling berpisah. Maka jika seseorang mencintai sang nabi meskipun jasadnya tidak bertemu dengan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ruhnya akan bersatu dengan pasukan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun jika hamba itu adalah orang yang dhalim, fasiq, atau munafiq lalu wafat maka ketika ditanya oleh malaikat :
مَاعِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ؟
“ Apa pengetahuanmu akan lelaki ini?”
Ia akan menjawab :
لَا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ
“Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka akupun mengatakannya”.
Orang itu tidak mengenali sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ia tidak mengenal sejarah beliau di dunia, tidak juga banyak membaca shalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
أَقْرَبُكُمْ مِنِّيْ مَنْزِلاً يَوْمَ اْلقِيَامَةِ أَكْثَرَكُمْ عَلَيَّ صَلاَةً
“ Yang paling dekat tempat kalian denganku kelak di hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku”
Namun orang itu tidak banyak bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan memerangi dan melarang kelompok orang yang bershalawat, sehingga orang tersebut tidak mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mensyirikkan orang-orang yang mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang seperti ini kelak di alam kubur ketika ditanya oleh Malaikat tentang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia menjawab bahwa ia tidak mengenali orang tersebut (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), maka ketika itu malaikat memukulnya dengan martil besi sehingga ia menjerit dengan dahsyatnya dimana jeritan itu didengar oleh seluruh alam jagad raya kecuali jin dan manusia.
Oleh karena itu kenalilah sayyidina Muhamamd shallallahu ‘alaihi wasallam, mukjizat agung dimana ketika dalam keadaan tidak menemukan air, ketika itu air pun mengalir dari bawah jari-jari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukan hal yang seperti itu hanya untuk para sahabat beliau, namun beliau tidak akan membiarkan orang-orang yang mencintai beliau dalam kesusahan dan kesulitan.
كُلُّ مَنْ يَعْشَقْ مُحَمَّدا في اَمَانٍ وَسَلامِ
“Semua yang merindukan Nabi Muhammad selalu diamankan oleh Allah dan diberi keselamatan”
Alhamdulillah malam ini kita berada dalam kelompok para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Alhamdulillah. Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah semoga segala hajat kita dikabulkan, baik hajat dunia dan hajat akhirat dan diberi lebih dari yang kita minta dan harapkan, amin allahumma amin…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Pahala Menanti Waktu Shalat


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ




Pahala Menanti Waktu Shalat


قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا يَزَالُ الْعَبْدُ، فِي صَلاةٍ، مَا كَانَ، فِي الْمَسْجِدِ، يَنْتَظِرُ الصَّلاةَ، مَا لَمْ يُحْدِثْ.
(صحيح البخاري)
“ِSabda Rasulullah saw : Tiada hentinya hamba dalam pahala shalat (walau ia diam) selama ia masih tetap dimasjid dalam keadaan suci menanti waktu shalat” (Shahih Bukhari)
ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Membuka keluhuran di dalam kehidupan jiwa, Yang menjadikan setiap detik-detik adalah berlian keabadian untuk mencapai kedekatan kepada Allah, hingga sampailah kepada kita seindah-indah kabar yang merupakan samudera luas Ilahi, mutiara pembuka keridhaan Allah subhanahu wata’ala, rahasia cahaya kebahagiaan dunia dan akhirat, rahasia pembuka keluhuran di dunia dan akhirat, rahasia pembuka kesucian dan keindahan yang membuat hati tenang yang dipenuhi dengan iman dan ihsan di dunia dan akhirat. Suara dari untaian kalimat-kalimat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menerangi jiwa-jiwa para sahabat dan mengangkat jiwa mereka menuju kepada keluhuran, yang telah berkata sayyidina Abu Hurairah RA:
ياَرَسُوْلَ الله إِذَا رَأَيْنَاكَ رَقَّتْ قُلُوْبُنَا
“ Wahai Rasulullah jika kami melihatmu, terangkatlah hati kami sampai puncak ke khusyu’an”
Maka ketika pemilik wajah indah itu mengucapkan kata-kata sungguh seakan-akan mutiara berjatuhan dari bibir mulia beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, karena indahnya suara beliau. Sehingga diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa tiada suara yang lebih indah daripada suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika beliau berbicara di hari Hajj Al Wada’ (Haji Perpisahan) yang dihadiri oleh puluhan ribu orang maka suara beliau terdengar rata oleh orang yang berada di barisan terdepan atau pun yang berada di barisan paling belakang, meskipun di saat itu tidak ada pengeras suara, akan tetapi angin tidak berani memotong suara nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana suara itu mampu menembus ‘arsy Ar rahman di dalam munajat. Dalam hadits diatas beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa seseorang yang duduk menanti waktu shalat dan dalam keadaan suci maka ia mendapatkan pahala shalat selamat waktu menanti shalat tersebut, misalkan seseorang menunggu waktu shalat Asar sejak selesai shalat Dzuhur, maka selama waktu menunggu itu ia terhitung melakukan shalat meskipun dalam keadaan tidur (tidur dengan keadaan duduk), tidur yang tidak membatalkan wudhu, karena dalam madzhab Syafi’i seseorang yang tidur dalam keadaan duduk tidak bergerak maka hal itu tidak membatalkan wudhu’. Maka seseorang yang selama berjam-jam menunggu waktu shalat, ia terhitung mendapatkan pahala shalat sebagaimana sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits tadi. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari di hari-hari terakhir dalam kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dalam keadaan sakit, suatu waktu beliau terbangun di tengah malam setelah sebelumnya beliau tidak sadarkan diri (pingsan), dan ketika itu para sahabat ada yang dalam keadaan berdzikir, ada pula yang tertidur dalam keadaan duduk di dalam masjid dan keadaan belum melakukan shalat Isya’ dan tidak ada yang bergerak dari tempatnya karena menunggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan shalat berjamaah bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kepada sayyidah Aisyah untuk membawa beliau ke tempat berwudhu lalu, dan setelah itu beliau kembali roboh dan tidak sadarkan diri, kemudian terbangun di sepertiga malam dan berkata kepada sayyidah Aisyah RA : “Wahai Aisyah, apakah orang-orang sudah melakukan shalat ‘isya?”, sayyidah Aisyah berkata: “Belum, karena mereka menunggumu wahai Rasulullah “, demikian keadaan para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka para sahabat tidak ingin catatan shalat mereka ditulis kecuali dengan tulisan : Fulan bin Fulan bermakmum pada sang imam Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam hal ini manakah yang lebih utama antara melakukan shalat di awal waktunya atau melakukan shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun tidak di awal waktu?, padahal dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa amal yang paling utama adalah mengerjakan shalat di awal waktunya, namun ketika itu justru para sahabat menunggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga sepertiga malam untuk mengerjakan shalat isya’ bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hal ini menunjukkan bahwa melakukan shalat bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam jauh lebih utama dari melakukan shalat tepat pada waktunya dan tidak bersama dengan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam hal ini para ulama’ mengatakan diperbolehkan mengakhirkan waktu shalat jika dalam keadaan ada ta’lim atau dars (pelajaran), yaitu ketika tiba waktu shalat maka kumandangkan adzan kemudian melanjutkan ta’lim atau dars hingga selesai, karena duduk (dalam hal-hal yang baik) dalam keadaan menunggu waktu shalat termasuk ibadah, lain halnya jika mengundur waktu shalat dikarenakan sesuatu atau hal yang bersifat duniawi maka hal itu tidak diperbolehkan, akan tetapi jika mengakhirkan waktu shalat karena Ilmu maka yang lebih utama adalah menunggu hingga pembahasan ilmu selesai dan semua yang dipelajari dapat difahami barulah setelah itu melakukan shalat, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat dahulu memperbuat hal itu yaitu melakukan shalat Isya’ hingga tengah malam, dan juga dikhawatirkan jika pembahasan ilmu itu dihentikan seketika dan orang yang belajar belum memahami ilmu tersebut maka dikhawatirkan ia keluar dari majelis ilmu itu tanpa ada pemahaman dan menyampaikan sesuatu atau ilmu kepada yang lainnya dengan tidak ada pemahaman akan ilmu yang ia sampaikan.
Hal ini banyak belum difahami oleh sebagian orang, dimana mereka berpendapat jika adzan telah dikumandangkan maka harus segera dilaksanakan shalat dalam keadaan apapun, akan tetapi dalam hal ini jika dalam keadaan dalam pembahasan suatu ilmu dan tiba waktu shalat maka sebaiknya menyelesaikan pembahasan ilmu tersebut, kemudian baru melakukan shalat, dan hal demikian adalah ijma’ para ulama.
Selanjutnya ada pertanyaan yang ingin saya jawab, yaitu masalah Jama’ah Tabligh, dimana saat ini masyarakat semakin banyak memperdebatkan hal ini, perlu kita ketahui dan yakini bahwa Jama’ah Tabligh adalah kumpulan orang Islam, yang mana jika mereka kafir maka mereka tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam masjid, namun dalam hal ini yang kita larang adalah jika aqidahnya dapat merusak aqidah Ahlu sunnah waljama’ah, maka sebelum mereka masuk ke suatu masjid terebih dahulu sampaikan kepada mereka bahwa di masjid tersebut menerapkan madzhab Syafi’i yang diantaranya jika dalam shalat Subuh mereka membaca doa qunut, atau ketika seseorang menjadi imam shalat maka ia membaca Bismillahirrahmanirrahim secara terang-terangan, jika setelah disampaikan kepada mereka akan hal tersebut dan mereka tidak berkenan untuk mengikutinya maka mintalah mereka untuk memilih tempat atau masjid yang lainnya. Namun jangan menjadi permusuhan hingga ketika mereka baru saja tiba di suatu masjid mereka langsung diusir atau yang lainnya, karena dari mereka banyak juga yang berfaham Ahlu Sunnah Wal jama’ah yang bisa kita rangkul untuk bersama berjuang dalam berdakwah, banyak diantara mereka yang melakukan amalan-amalan seperti yang kita lakukan, seperti maulid nabi dan lainnya, bahkan cara-cara mereka banyak yang diambil dan dikerjakan oleh guru kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad Al Hafidh, yang diantaranya Khuruj (keluar) dari rumah untuk berdakwah, hal ini juga dilakukan oleh beliau, dan beliau juga pernah hadir dalam Ijtima’ Jama’ah Tabligh yang diadakan di Pakistan. Akan tetapi diantara mereka ada juga yang berfaham Wahabisme dan ada juga yang Ahlu sunnah waljama’a, maka mereka (Jama’ah Tabligh) yang berfaham ahlu sunnah wal jamaah dan berkeyakinan sama dengan kita, jangan kita samakan dengan mereka yang berbeda faham dengan kita, yang diantaranya mengatakan bahwa maulid nabi adalah perbuatan syirik, ziarah kubur atau membaca tahlil adalah perbuatan syirik dan lainnya maka jangan disamakan antara dua kelompok tersebut. Di masa sekarang khususnya di daerah Jakarta ini sudah mulai ada pihak-pihak dari dalam yang berusaha untuk memecah belah para ulama’ serta majelis-majelis ta’lim dan dzikir hendak dihancurkan, maka kedepannya akan menyusup pihak-pihak dari luar yang memusuhi Islam, inteligen Amerika dan yang lainnya yang akan menginterogasi para ulama’, habaib dan kyai, jika kita ummat Islam tidak segera bersatu dalam satu barisan, maka kita segera bersatu dalam satu kalimat “Laa ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah”, berkaitan dengan orang-orang yang terlibat dalam hukum maka silahkan dihukum karena negeri ini adalah negeri hukum, namun diluar hal itu kita sesama ummat Islam jangan berpecah belah. Adapun berkaitan dengan kesalahan atau dosa, kita terima bahwa semua orang tidak akan terlepas dari dosa maka kita maafkan saja, mengenai dosa maka hal itu adalah urusan antara makhluk dengan Allah subhanahu wata’ala. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw berkata : “Jika engkau melihat aib orang lain maka bisa jadi aibmu lebih besar dari aib orang itu, dan jika engkau tidak tidak pernah melakukan aib sebesar itu, maka ingatlah barangkali Allah subhanahu wata’ala telah mengampuni aib orang itu, namun belum mengampuni aib mu yang meskipun lebih kecil”. Guru kita Al Habib Umar menjelaskan dalam salah satu kitab beliau tentang kemuliaan sayyidina Mu’adz bin Jabal yang diajari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam salah satu tuntunan kezuhudan dan wara’ (berhati-hati dalam berbuat), berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “ Wahai Mu’adz kelak engkau akan bertanggung jawab dihadapan Allah subhanahu wata’ala tentang segala sesuatu yang engkau lakukan, bahkan tentang butiran debu yang menempel di tanganmu yang mungkin engkau mengira bahwa hal itu tidak akan dipertanyakan”, dan dalam kitab itu guru mulia Al Habib Umar juga menjelaskan bagaimana seseorang harus mencari rizki dari cara halal, sebagaimana cerita salah seorang wanita shalihah yang jika suaminya akan berangkat kerja maka ia berkata kepadanya : “ wahai suamiku kudoakan agar engkau mendapatkan keberkahan, maka jangan bawakan yang haram kepada kami, jangan membawa rizki yang dapat menjebak kami ke dalam api neraka, jangan bawakan makanan dan minuman yang dapat menyeret kami ke dalam api neraka, kami rela jika harus tidak makan atau minum berada dalam keadaan lapar atau haus asalkan kami tetap berada dalam keridhaan Allah subhanahu wata’ala”. Di zaman sekarang ini adakah wanita yang berani mengatakan hal itu kepada suaminya?!, wanita shalihah seperti ini sangat sulit ditemui. Dijelaskan juga oleh guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bahwa jika seseorang tidak peduli dari mana rizkinya didapatkan apakah dengan cara yang halal atau yang haram maka Allah subhanahu wata’ala juga tidak peduli ia masuk ke dalam neraka Jahannam dari pintu yang mana.
Sedikit menambah penjelasan hadits tadi, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa seseorang yang duduk di masjid dalam keadaan scui untuk menunggu shalat maka selama itu ia berada dalam pahala shalat sampai tiba waktu shalat tersebut. Hadits yang semakna dengan hadits ini juga diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, namun ditambahkan dengan ucapan sayyidina Hasan bin Ali Kw, yaitu bahwa seseorang tetap dalam kebaikan selama menanti kebaikan, seperti saat ini kita dalam keadaan menanti dzikir, menanti doa penutup maka pahalanya terus mengalir selama waktu menanti itu, dalam hal ini bagaimana kemuliaan orang yang senantiasa menanti untuk berjumpa dengan Allah, hari-hari terlewatkan, musibah berganti dengan kenikmatan, perubahan demi perubahan terjadi namun ia tetap menanti perjumpaan dengan Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
(الإنشقاق : 6 )
“Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” ( QS. Al Insyiqaaq : 6 )
Sungguh keberuntungan besar bagi orang yang menunggu untuk berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala. Hamba- hamba yang merindukanNya maka Allah pun merindukannya, sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi :
مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ
“ Barangsiapa yang rindu ingin berjumpa dengan-Ku maka Aku pun ingin berjumpa dengannya”
Ya Allah pantaskah dengan segala dosa dan kesalahan inikah Engkau merindukan kami, sangatlah tidak pantas seorang budak hina seperti kami mengatakan hal itu, namun di malam ini dengan izin Mu Engkau perdengarkan hadits itu kepada kami. Sebagai contoh jika seorang raja yang sangat mulia mengumpulakn sepuluh ribu orang budaknya dan setiap budak mengutarakan keinginannya dari segala kenikmatan dunia lantas ia kabulkan keinginan mereka, namun satu dari mereka hanya terdiam dan ketika ditanya : “Apa yang engkau inginkan?”, si budak menjawab : “Aku menginginkanmu”, sungguh sangatlah tidak pantas seorang budak mengucapkan hal demikian, namun Allah subhabahu wata’ala senantiasa memberikan harapan dan membuka kesempatan untuk hamba yang menginginkan cintaNya..
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Rahasia Sholat Dhuha yang harus diketahui

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ




Allah Ta'ala dalam beberapa ayat bersumpah dengan waktu Dhuha. Dalam pembukaan surat As-Syams, Allah berfirman, "demi matahari dan demi waktu Dhuha." Bahkan, ada surat khusus di Alquran dengan nama Addhuha.

Pada pembukaannya, Allah berfirman, "demi waktu Dhuha." Imam Arrazi menerangkan bahwa Allah Ta'ala setiap bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu Dhuha, berarti waktu Dhuha adalah waktu yang sangat penting. Benar, waktu Dhuha adalah waktu yang sangat penting. Di antara doa Rasulullah SAW: Allahumma baarik ummatii fii bukuurihaa. Artinya, "Ya Allah berilah keberkahan kepada umatku di waktu pagi."


Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif dan bangun di waktu pagi (waktu Subuh dan Dhuha) untuk beribadah kepada Allah dan mencari nafkah yang halal, ia akan mendapatkan keberkahan. Sebaliknya, mereka yang terlena dalam mimpi-mimpi dan tidak sempat shalat Subuh pada waktunya, ia tidak kebagian keberkahan itu.

Abu Dzar meriwayatkan sebuah hadits. Rasulullah SAW bersabda, ''Bagi tiap-tiap ruas anggota tubuh kalian hendaklah dikeluarkan sedekah baginya setiap pagi. Satu kali membaca tasbih (subhanallah) adalah sedekah, satu kali membaca tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, satu kali membaca takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh berbuat baik adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan, semua itu bisa diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha.'' (HR Muslim)

Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW selalu melaksanakan shalat Dhuha empat rakaat. Dalam riwayat Ummu Hani', "Kadang Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha sampai delapan rakaat." (HR Muslim). Imam Attirmidzi dan Imam Atthabrani meriwayatkan sebuah hadis yang menjelaskan bahwa bila seseorang melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu ia berdiam di tempat shalatnya sampai tiba waktu Dhuha, kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha, ia akan mendapatkan pahala seperti naik haji dan umrah diterima. Para ulama hadis merekomendasika n hadis ini kedudukannya hasan.

Jelaslah bahwa shalat Dhuha sangat penting bagi orang beriman. Penting bukan karena--seperti yang banyak dipersepsikan-- shalat Dhuha ada hubungannya dengan mencari rezeki, melainkan ia penting karena sumpah Allah SWT dalam Al-Qur'an. Maka, sungguh bahagia orang-orang beriman yang memulai waktu paginya dengan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu dilanjutkan dengan shalat Dhuha.

Subhanallah...

RASULULLAH MENANGIS MELIHAT PEREMPUAN

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ



RASULULLAH MENANGIS MELIHAT PEREMPUAN

Rasulullah ceritakan pengalaman saksi balasan dahsyat ketika isra' mi'raj, Ali berkata: "Saya dengan Fatimah pergi menghadap Rasulullah SAW. Kami dapati beliau sedang menangis, lalu kami bertanya kepadanya, apakah yang menyebabkan ayahanda menangis, ya Rasulullah?" Baginda SAW menjawab: "Pada malam aku diisr'k hingga ke langit, di sana aku melihat perempuan dalam keadaan amat dahsyat. Dengan sebab itu aku menangis mengenangkan azab yang diterima mereka."



Ali bertanya: "Apakah yang ayahanda lihat di sana?" Rasulullah SAW menjawab: "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otak kepalanya menggelegak. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair di-curah ke dalam halkumnya (tekak). "Aku lihat perempuan yang digantung kedua kakinya terikat, tangannya diikat ke ubun-ubunnya, disuakan ular dan kalajengking. Aku lihat perempuan yang memakan dagingnya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Aku lihat perempuan mukanya hitam dan memakan tali perutnya sendiri. "Aku lihat perempuan yang telinga pekak dan matanya buta, diisikan ke dalam peti yang diperbuat daripada api neraka, otaknya keluar daripada lubang hidung, badan bau busuk kerana penyakit kusta dan sopak.



"Aku lihat perempuan yang kepalanya seperti babi, badannya seperti himar berbagai kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, kalajengking dan ular masuk ke kemaluannya, mulut dan pelepasnya (punggung). Malaikat memukulnya dengan corong api neraka." Fatimah pun bertanya kepada ayahandanya: "Ayahanda yang dikasihi, beritakanlah kepada ananda, apakah kesalahan yang dilakukan oleh perempuan itu?"



Rasulullah menjawab: "Fatimah, adapun perempuan tergantung rambutnya itu adalah perempuan yang tidak menutup rambut daripada bukan muhrimnya. Perempuan tergantung lidahnya ialah perempuan yang menggunakan lidahnya untuk memaki dan menyakiti hati suaminya. "Perempuan yang digantung susunya adalah perempuan yang menyusukan anak orang lain tanpa (seijin) suaminya. Perempuan kedua kakinya tergantung itu ialah perempuan yang keluar dari rumahnya tanpa izin suaminya.



"Perempuan tidak mau mandi setelah haid nan nifas ialah perempuan yang memakan badannya sendiri, juga karena ia berhias untuk lelaki bukan suaminya dan suka mengumpat orang. "Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka kerana ia memperkenalkan dirinya kepada orang asing, bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat lelaki lain. "Perempuan diikat kedua kakinya dan tangannya ke atas ubun-ubunnya, disuakan ular dan kalajengking kepadanya karena ia sembahyang tetapi tidak mengerjakannya dan tidak mandi janabah. "Perempuan kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah ahli pengumpat dan pendusta. Perempuan rupanya seperti anjing ialah perempuan yang suka membuat fitnah dan membenci suaminya.



Seterusnya Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Perempuan menyakit hati suami dengan lidahnya pada hari kiamat nanti Allah jadikan lidahnya sepanjang 70 hasta kemudian diikat di belakang tengkoknya." Abu Bakar as-Sidik mengatakan, aku dengar Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Perempuan menggunakan lidah untuk menyakiti hati suaminya ia akan dilaknat dan kemurkaan Allah." Usamah bin Zaid menceritakan, bahawa Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:



"Aku berdiri di atas syurga, kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah golongan miskin dan orang kaya tertahan di luar pintu syurga kerana dihisab. Selain daripada itu ahli neraka diperintahkan masuk ke dalam neraka, dan aku berdiri di atas pintu neraka, ku lihat kebanyakan yang masuk ke dalam neraka adalah perempuan."



Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Aku lihat api neraka, tidak pernah aku melihatnya seperti hari ini, karena ada pemandangan yang dahsyat di dalamnya aku saksikan kebanyakan ahli neraka adalah perempuan." Rasulullah SAW ditanya, mengapa ya Rasulullah? Baginda SAW menjawab: "Perempuan mengkufurkan suaminya dan mengkufurkan ihsannya, Jika engkau membuat baik kepadanya seberapa banyak pun dia belum berpuas hati dan cukup." (Hadis riwayat Bukhari)

Hukum memakai niqab ( Cadar ) tidak wajib


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ

Hukum memakai niqab ( Cadar ) tidak wajib

Masalah kewajiban memakai cadar sebenarnya tidak disepakati oleh para ulama. Maka wajarlah bila kita sering mendapati adanya sebagian ulama yang mewajibkannya dengan didukung dengan sederet dalil dan hujjah. Namun kita juga tidak asing dengan pendapat yang mengatakan bahwa cadar itu bukanlah kewajiban. Pendapat yang kedua ini pun biasanya diikuti dengan sederet dalil dan hujjah juga.

Dalam kajian ini, marilah kita telusuri masing-masing pendapat itu dan berkenalan dengan dali dan hujjah yang mereka ajukan. Sehingga kita bisa memiliki wawasan dalam memasuki wilayah ini secara bashirah dan wa`yu yang sepenuhnya. Tujuannya bukan mencari titik perbedaan dan berselisih pendapat, melainkan untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang dasar isitmbath kedua pendapat ini agar kita bisa berbaik sangka dan tetap menjaga hubunngan baik dengan kedua belah pihak.

1. Kalangan Yang Mewajibkan Cadar
Mereka yang mewajibkan setiap wanita untuk menutup muka (memakai niqab) berangkat dari pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat wanita yang wajib ditutup dan haram dilihat oleh lain jenis non mahram.

Dalil-dalil yang mereka kemukakan antara lain :

a. Surat Al-Ahzab : 59

`Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu`min: `Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka`. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.` (QS. Al-Ahzah : 59)

Ayat ini adalah ayat yang paling utama dan paling sering dikemukakan oleh pendukung wajibnya niqab. Mereka mengutip pendapat para mufassirin terhadap ayat ini bahwa Allah mewajibkan para wanita untuk menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka termasuk kepala, muka dan semuanya, kecuali satu mata untuk melihat. Riwayat ini dikutip dari pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas`ud, Ubaidah As-Salmani dan lainnya, meskipun tidak ada kesepakatan diantara mereka tentang makna `jilbab` dan makna `menjulurkan`.

Namun bila diteliti lebih jauh, ada ketidak-konsistenan nukilan pendapat dari Ibnu Abbas tentang wajibnya niqab. Karena dalam tafsir di surat An-Nuur yang berbunyi (kecuali yang zahir darinya), Ibnu Abbas justru berpendapat sebaliknya.

Para ulama yang tidak mewajibkan niqab mengatakan bahwa ayat ini sama sekali tidak bicara tentang wajibnya menutup muka bagi wanita, baik secara bahasa maupun secara `urf (kebiasaan). Karena yang diperintahkan jsutru menjulurkan kain ke dadanya, bukan ke mukanya. Dan tidak ditemukan ayat lainnya yang memerintahkan untuk menutup wajah.

b. Surat An-Nuur : 31

`Katakanlah kepada wanita yang beriman: `Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.` (QS. An-Nur : 31).

Menurut mereka dengan mengutip riwayat pendapat dari Ibnu Mas`ud bahwa yang dimaksud perhiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah wajah, karena wajah adalah pusat dari kecantikan. Sedangkan yang dimaksud dengan `yang biasa nampak` bukanlah wajah, melainkan selendang dan baju.

Namun riwayat ini berbeda dengan riwayat yang shahi dari para shahabat termasuk riwayt Ibnu Mas`ud sendiri, Aisyah, Ibnu Umar, Anas dan lainnya dari kalangan tabi`in bahwa yang dimaksud dengan `yang biasa nampak darinya` bukanlah wajah, tetapi al-kuhl (celak mata) dan cincin. Riwayat ini menurut Ibnu Hazm adalah riwayat yang paling shahih.

c. Surat Al-Ahzab : 53

`Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka , maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.`(QS. Al-Ahzab : 53)

Para pendukung kewajiban niqab juga menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat bahwa wanita wajib menutup wajah mereka dan bahwa wajah termasuk bagian dari aurat wanita. Mereka mengatakan bahwa meski khitab ayat ini kepada istri Nabi, namun kewajibannya juga terkena kepada semua wanita mukminah, karena para istri Nabi itu adalah teladan dan contoh yang harus diikuti.

Selain itu bahwa mengenakan niqab itu alasannya adalah untuk menjaga kesucian hati, baik bagi laki-laki yang melihat ataupun buat para istri nabi. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat ini bahwa cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka (istri nabi).

Namun bila disimak lebih mendalam, ayat ini tidak berbicara masalah kesucian hati yang terkait dengan zina mata antara para shahabat Rasulullah SAW dengan para istri beliau. Kesucian hati ini kaitannya dengan perasaan dan pikiran mereka yang ingin menikahi para istri nabi nanti setelah beliau wafat. Dalam ayat itu sendiri dijelaskan agar mereka jangan menyakiti hati nabi dengan mengawini para janda istri Rasulullah SAW sepeninggalnya. Ini sejalan dengan asbabun nuzul ayat ini yang menceritakan bahwa ada shahabat yang ingin menikahi Aisyah ra bila kelak Nabi wafat. Ini tentu sangat menyakitkan perasaan nabi.

Adapun makna kesucian hati itu bila dikaitkan dengan zina mata antara shahabat nabi dengan istri beliau adalah penafsiran yang terlalu jauh dan tidak sesuai dengan konteks dan kesucian para shahabat nabi yang agung.

Sedangkan perintah untuk meminta dari balik tabir, jelas-jelas merupakan kekhusususan dalam bermuamalah dengan para istri Nabi. Tidak ada kaitannya dengan `al-Ibratu bi `umumil lafzi laa bi khushushil ayah`. Karena ayat ini memang khusus membicarakan akhlaq pergaulan dengan istri nabi. Dan mengqiyaskan antara para istri nabi dengan seluruh wanita muslimah adalah qiyas yang tidak tepat, qiyas ma`al fariq. Karena para istri nabi memang memiliki standart akhlaq yang khusus. Ini ditegaskan dalam ayat Al-Quran.

`Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,` (QS. Al-ahzab : 32)

d. Hadits Larang Berniqab bagi Wanita Muhrim
Para pendukung kewajiban menutup wajah bagi muslimah menggunakan sebuah hadits yang diambil mafhum mukhalafanya, yaitu larangan Rasulullah SAW bagi muslimah untuk menutup wajah ketika ihram.

`Janganlah wanita yang sedang berihram menutup wajahnya (berniqab) dan memakai sarung tangan`.

Dengan adanya larangan ini, menurut mereka lazimnya para wanita itu memakai niqab dan menutup wajahnya, kecuali saat berihram. Sehingga perlu bagi Rasulullah SAW untuk secara khusus melarang mereka. Seandainya setiap harinya mereka tidak memakai niqab, maka tidak mungkin beliau melarangnya saat berihram.

Pendapat ini dijawab oleh mereka yang tidak mewajibkan niqab dengan logika sebaliknya. Yaitu bahwa saat ihram, seseorang memang dilarang untuk melakukan sesautu yang tadinya halal. Seperti memakai pakaian yang berjahit, memakai parfum dan berburu. Lalu saat berihram, semua yang halal tadi menjadi haram. Kalau logika ini diterapkan dalam niqab, seharusnya memakai niqab itu hukumnya hanya sampai boleh dan bukan wajib. Karena semua larangan dalam ihram itu hukum asalnya pun boleh dan bukan wajib. Bagaimana bisa sampai pada kesimpulan bahwa sebelumnya hukumnya wajib ?

Bahwa ada sebagian wanita yang di masa itu menggunakan penutup wajah, memang diakui. Tapi masalahnya menutup wajah itu bukanlah kewajiban. Dan ini adalah logika yang lebih tepat.

e. Hadits bahwa Wanita itu Aurat
Diriwayatkan oleh At-Tirmizy marfu`an bahwa,

“Wanita itu adalah aurat, bila dia keluar rumah, maka syetan menaikinya`.

Menurut At-turmuzi hadis ini kedudukannya hasan shahih. Oleh para pendukung pendapat ini maka seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, termasuk wajah, tangan, kaki dan semua bagian tubuhnya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sebagian pengikut Asy-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah.

f. Mendhaifkan Hadits Asma`
Mereka juga mengkritik hadits Asma` binti Abu Bakar yang berisi bahwa, `Seorang wanita yang sudah hadih itu tidak boleh nampak bagian tubuhnya kecuali ini dan ini` Sambil beliau memegang wajar dan tapak tangannya.

2. Kalangan Yang Tidak Mewajibkan Cadar
Sedangkan mereka yang tidak mewajibkan cadar berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat wanita. Mereka juga menggunakan banyak dalil serta mengutip pendapat dari para imam mazhab yang empat dan juga pendapat salaf dari para shahabat Rasulullah SAW.

a. Ijma` Shahabat
Para shahabat Rasulullah SAW sepakat mengatakan bahwa wajah dan tapak tangan wanita bukan termasuk aurat. Ini adalah riwayat yang paling kuat tentang masalah batas aurat wanita.

b. Pendapat Para Fuqoha Bahwa Wajah Bukan Termasuk Aurat Wanita.
Al-Hanafiyah mengatakan tidak dibenarkan melihat wanita ajnabi yang merdeka kecuali wajah dan tapak tangan. (lihat Kitab Al-Ikhtiyar). Bahkan Imam Abu Hanifah ra. sendiri mengatakan yang termasuk bukan aurat adalah wajah, tapak tangan dan kaki, karena kami adalah sebuah kedaruratan yang tidak bisa dihindarkan.

Al-Malikiyah dalam kitab `Asy-Syarhu As-Shaghir` atau sering disebut kitab Aqrabul Masalik ilaa Mazhabi Maalik, susunan Ad-Dardiri dituliskan bahwa batas aurat waita merdeka dengan laki-laki ajnabi (yang bukan mahram) adalah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Keduanya itu bukan termasuk aurat.

Asy-Syafi`iyyah dalam pendapat As-Syairazi dalam kitabnya `al-Muhazzab`, kitab di kalangan mazhab ini mengatakan bahwa wanita merdeka itu seluruh badannya adalah aurat kecuali wajah dan tapak tangan.

Dalam mazhab Al-Hanabilah kita dapati Ibnu Qudamah berkata kitab Al-Mughni 1 : 1-6,`Mazhab tidak berbeda pendapat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan tapak tangannya di dalam shalat

Daud yang mewakili kalangan zahiri pun sepakat bahwa batas aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuai muka dan tapak tangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Nailur Authar. Begitu juga dengan Ibnu Hazm mengecualikan wajah dan tapak tangan sebagaiman tertulis dalam kitab Al-Muhalla.

c. Pendapat Para Mufassirin
Para mufassirin yang terkenal pun banyak yang mengatakan bahwa batas aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Mereka antara lain At-Thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razy, Al-Baidhawi dan lainnya. Pendapat ini sekaligus juga mewakili pendapat jumhur ulama.

d. Dhai`ifnya Hadits Asma Dikuatkan Oleh Hadits Lainnya
Adapun hadits Asma` binti Abu Bakar yang dianggap dhaif, ternyata tidak berdiri sendiri, karena ada qarinah yang menguatkan melalui riwayat Asma` binti Umais yang menguatkan hadits tersebut. Sehingga ulama modern sekelas Nasiruddin Al-Bani sekalipun meng-hasankan hadits tersebut sebagaimana tulisan beliau `hijab wanita muslimah`, `Al-Irwa`, shahih Jamius Shaghir dan `Takhrij Halal dan Haram`.

e. Perintah Kepada Laki-laki Untuk Menundukkan Pandangan.
Allah SWt telah memerintahkan kepada laki-laki untuk menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar). Hal itu karena para wanita muslimah memang tidak diwajibkan untuk menutup wajah mereka.

`Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: `Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat(QS. An-Nuur : 30)

Dalam hadits Rasulullah SAW kepada Ali ra. disebutkan bahwa,

Jangan lah kamu mengikuti pandangan pertama (kepada wanita) dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama itu untukmu dan yang kedua adalah ancaman / dosa`. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizy dan Hakim).

Bila para wanita sudah menutup wajah, buat apalagi perintah menundukkan pandangan kepada laki-laki. Perintah itu menjadi tidak relevan lagi.

Sumber: http://goo.gl/Qz2Ih